
Pendahuluan
Studi kualitatif partisipatoris PSAP UGM di Sumba Barat Daya sejak tahun 2018 hingga tahun 2020 menemukan konsep kedaulatan pangan dapat digunakan untuk memitigasi ancaman kelaparan tahunan (Laksono, 2020). Di Sumba Barat Daya, kelaparan biasanya terjadi pada awal musim penghujan sekitar bulan Januari ketika cadangan pangan menipis habis untuk modal tanam justru berhimpitan dengan saat kontraksi sosial budaya yang besar seperti Pasola, Nyale, pernikahan, kematian dan sebagainya. Oleh karena itu, mitigasi kelaparan dapat dilakukan dengan menyelaraskan siklus alam, distribusi, dan konsumsi hasil usaha tani dengan pola budaya.
Penyelarasan siklus-siklus alam, sosial, ekonomi dan budaya, memerlukan kontrak sosial yang tepat. Komunitas setempat dapat menyepakati kontrak-kontrak sosial sebagai moralitas yang diekspresikan secara arif dalam ritual dan hidup sehari-hari. Dengan demikian, kehidupan yang terorganisir dan adaptif pada perubahan lingkungan alam akan terkelola.
Sebetulnya, masyarakat Sumba Barat Daya secara tradisional sudah terbiasa mengelola hubungan antara usaha tani, peternakan, dengan rangkaian kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya.
Tata Kelola hubungan ini biasanya diurus secara spiritual oleh para Rato menggunakan media tradisional yang eksklusif dan unik. Sistem tata Kelola ini, ada kalanya menjadi terlalu eksklusif, sehingga proses pewarisan pengetahuannya terkendala. Untuk mengatasi kendala ini diperlukan kalender musim baru yang inklusif dan egaliter dalam bentuk jembatan keledai prakarsa PSAP UGM yang selanjutnya dikembangkan dan diproduksi oleh Terawang Indonesia sebagai SISIBULAT.
Jembatan keledai SISIBULAT akan membantu seluruh lapisan warga masyarakat untuk duduk bersama, membicarakan secara terbuka dan partisipatoris untuk menyadari dan menginsyafi pentingnya mendahulukan kedaulatan pangan dari pada kebutuhan-kebutuhan konsumtif.
Permasalahan
Bagaimana jembatan keledai SISIBULAT dapat berfungsi untuk memitigasi ancaman kelaparan yang tidak terlepas dari aspek kehidupan lainnya (holistik)?


Metode
- Membaca ulang temuan inovatif Kalender Musim hasil studi PSAP UGM di Sumba Barat Daya (Laksono, dkk., 2021).
- Inovasi dikembangkan dan diperkaya menjadi prototipe dengan panduan penggunaannya.
- Pengujian kelayakan prototipe kepada perwakilan warga Sumba terpelajar di Yogyakarta yang terdiri dari 8 orang laki-laki usia 18-26 tahun dan 8 orang perempuan usia 18 – 26 tahun dan 38-46 tahun.
- Hasil uji kelayakan dianalisis guna merevisi prototipe sebelum SISIBULAT direproduksi untuk diperbanyak.
- Hasil uji kelayakan juga menjadi petikan normatif bagi risalah kebijakan untuk aplikasi SISIBULAT bagi kepentingan konsumen.
- Petikan uji kelayakan memperkaya hasil studi untuk penyusunan risalah kebijakan.
- Peluncuran dan uji pengalaman pengguna akhir SISIBULAT di Sumba Barat Daya akan membangun literasi dan melahirkan komunitas pengguna SISIBULAT dalam mitigasi ancaman kelaparan secara berdaulat.
HASIL STUDI
KALENDER MUSIM
Studi partisipatoris PSAP UGM bekerja sama dengan Pemda Sumba Barat Daya, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Yayasan Donders di Sumba Barat Daya (2018-2020), menemukan fakta, petani terancam kelaparan nyaris secara permanen pada Januari-Februari (Laksono, dkk, 2021). Saat musim penghujan pada awal Oktober hingga akhir April, petani mulai menanam jagung, padi gogo, padi ciherang, serta ubi kayu. Saat curah hujan tinggi pada Januari dan Februari, jagung di ladang masih muda dan padi baru akan dipanen akhir Februari. Pada saat itu, persediaan pangan, seperti ubi kayu kering (hokula/gaplek) sudah menipis bahkan habis. Justru pada rentan waktu tersebut, pesta dan upacara adat seperti bangun rumah, gali kubur, angkat jiwa, dan lainnya biasa diselenggarakan. Ironisnya, saat pesta atau upacara adat banyak makanan terbuang (untuk pakan ternak).
Peristiwa adat (pesta dan upacara) tergantung pada keputusan para tokoh adat dan laki-laki. Penentuan waktu dan besaran kedde (pembayaran hutang yang tertunda dalam sistem resiprositas tradisional) diputuskan para suami, laki-laki acapkali tanpa musyawarah dengan anggota keluarga. Perempuan dan anak-anak tidak menjadi subjek dalam memutuskan adat. Padahal di pundak perempuan bersama anaknya kedaulatan pangan tergantung. Jadi, perempuan dan anak-anak menentukan status kecukupan pangan dalam rumah. Oleh karena itu, perempuan dan anak-anak penting sekali terlibat dalam mitigasi kelaparan.
Untuk memudahkan proses pelibatan seluruh anggota keluarga dan komunitas secara terbuka dalam mitigasi kelaparan, studi partisipatoris PSAP UGM menawarkan kalender musim. Kalender ini berfungsi sebagai jembatan keledai untuk membantu orang mengingat dan menghubungkan peristiwa-peristiwa siklikal (musim, pertanian, adat, pendidikan, perayaan nasional, dan peristiwa lain yang berulang). Koinsidensi negatif antar berbagai peristiwa siklikal dapat bermuara menjadi kondisi yang buruk, sial, celaka, tidak beruntung. Kelaparan adalah situasi akibat koinsidensi negatif yang harus dihindari secara terencana.
Anggota keluarga dan komunitas yang berbeda-beda gender, usia, pengetahuan, dan status sosial ekonomi dapat bermusyawarah menggunakan jembatan keledai sebagai media untuk merencanakan aksi menyelaraskan hubungan antar berbagai peristiwa siklikal guna mengatasi kelaparan. Media itu berbentuk lapisan-lapisan lingkaran yang fleksibel. Setiap lapis lingkaran memuat siklus berbagai peristiwa yang dapat diputar secara mandiri dan dapat diselaraskan dengan peristiwa lain, baik yang sudah maupun yang masih harus terjadi. Media penyelaras antar berbagai peristiwa siklikal itu ketika dilokakaryakan pada komunitas dan keluarga Sumba Barat Daya di Yogyakarta dan Sumba Barat Daya mendapat apresiasi positif.
Para peserta lokakarya mengaku mengalami proses penginsafan (konsientisasi), bahwa kelaparan di kampung halaman sesungguhnya bisa diatasi. Mereka sadar bahwa adaptasi dengan siklus musim itu niscaya perlu dibenahi. Selama ini orang secara lisan membicarakan peristiwa-peristiwa siklikal melalui lembaga dan tutur bahasa adat yang seringkali hanya dipahami oleh para spesialis adat (Rato dan Wunang). Kalender musim dapat menjadi sarana melibatkan semua orang dalam wacana yang tertulis (terekam). Ketika itu para partisipan mengalami peningkatan literasi, yaitu dapat membaca, mengungkapkan dan menuliskan kembali hubungan peristiwa siklikal yang pernah dan akan mereka alami secara terbuka. Bagaimana pun, kalender musim diterima sebagai media literasi dan konsientisasi yang efektif.
“Kalender ini mengingatkan dan bisa untuk menjelaskan (suami) kalau ada warna merah (ancaman lapar) ‘Pak, kita harus persiapan sehingga nanti di bulan satu dan dua kita tidak boleh lapar dan kita punya makan’.” (Perempuan Peserta Workshop, Wewewa Barat, 2020).
Kalender musim menjadi petunjuk maupun peringatan mitigasi kelaparan tahunan, sehingga selisih musim dapat dihindari, panenan terjamin, dan kesejahteraan masyarakat terjamin. Dengan demikian, mereka sadar/ insyaf, bahwa tata kelola ketersediaan pangan menjadi prioritas.
“Ini (kalender musim) termasuk perencanaan kerja keluarga. Salah satu permasalahan kita di sini kan tidak ada kalender, to? Dengan tidak adanya kalender, kita kerja (me)raba-raba. Kita kerja menurut kita, apa adanya. Hanya turun ramai. Tapi, bagaimana mengatur secara baik? Mengatur jadwal secara baik? Ini kelemahan kita selama ini.” (Kepala Desa Laga Lete, Wewewa Barat, 2020).
SISIBULAT - SIAGA SIKLIS BULAN LAPAR TOOLKIT
Berkat apresiasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, tahun 2021 tim peneliti mendapat hibah inovatif untuk mengembangkan kalender musim itu dapat dimanfaatkan secara lebih masal agar dapat dilipatgandakan manfaat dan penggunaanya. Untuk keperluan ini, kalender perlu menjadi lebih sederhana, adaptif, dan user friendly. Proses pengembangan diawali dengan membentuk Startup , yaitu Terawang Indonesia. Seluruh peneliti PSAP sebagai inovator bergabung di dalamnya.
Bersamaan dengan pengembangan Startup sejak awal tahun 2022 tim peneliti Terawang Indonesia mengembangkan kalender musim itu menjadi prototipe, yang diberi nama SISIBULAT (Siaga Siklis Bulan Lapar Toolkit). Adapun Prototipe SISIBULAT terdiri dari 5 jenis alat kerja, sebagai berikut:
- Permainan Kartu Kwartet Potensi tentang musim, potensi tanaman pangan, keadaan tanah, diri, dan keluarga, maupun adat kebiasaan komunitas. Permainan ini diperlukan untuk mengkondisikan para pemain agar fokus membicarakan perkara siklus alam, usaha tani, dan berbagai siklus sosial, ekonomi, budaya.
- Permainan Ular Tangga Situasi mengenai situasi yang sering dihadapi keluarga dan komunitas. Para pemain diajak untuk mengenali dan mempertimbangkan sistem nilai yang tepat untuk meresapi implikasi penerapan skala prioritas hidup.
- Kalender SISIBULAT, yaitu alat bantu bagi anggota keluarga mengingat, memahami, dan mengoreksi dinamika hubungan nyata antara kondisi dan situasi dari alam, usaha tani, adat, dan rumah tangga yang sering terjadi.
- Poster Rencana Aksi Mandiri para pengguna untuk menuliskan rencana aksinya dalam mitigasi kelaparan secara konsisten.
- Risalah Kebijakan sebagai bahan bacaan untuk promosi advokasi keluarga dan komunitas dalam menciptakan kondisi yang lebih baik, agar sejahtera bebas dari kelaparan.
Prototipe SISIBULAT sekarang telah menjadi produk paket siap pakai setelah mengalami dua kali uji kelayakan, yang dilakukan pada komunitas Sumba di Yogyakarta. Para peserta asyik dan senang menggunakan SISIBULAT. Mereka antusias, karena baru pertama kali mencoba serangkaian alat yang langsung mengingatkan kejadian di kampung halamannya. Apalagi, ternyata alat itu dapat digunakan untuk merencanakan strategi. Kata salah seorang peserta: “Baru kali ini (saya) melihat langsung ada kalender komunitas yang dibuat berdasarkan kondisi di sana.” Peserta lain melihat potensi alat ini untuk mengubah pikiran (“yang penting sekarang kita bisa makan, besok kita pikir lagi”).
Sejak di kampung halaman, para peserta mengaku tidak biasa membicarakan perkara masa depan. Alat ini mereka rasakan dapat menjadi pembuka obrolan situasi dan kondisi di Sumba, oleh karena itu dapat digunakan untuk merangsang kebiasaan baru dalam keluarga mendiskusikan masa depan bersama. Permainan Kartu Kwartet Potensi dan permainan Ular Tangga Situasi serta merta mencairkan relasi para peserta yang semula kaku. Kartu Kwartet Potensi melatih peserta seolah-olah mengerti situasi kekurangan dan kelebihan baik dirinya sendiri maupun teman-teman bermainnya. Permainan Ular Tangga Situasi membawa peserta berlatih menghadapi persoalan nilai hidup sehari-hari. Dari sini, orang mulai berinisiatif membicarakan masa depan baik di keluarga maupun komunitas. Padahal, selama ini, persoalan itu tidak menarik untuk diobrolkan. Jadi, alat itu kata mereka: “dapat mendukung munculnya inisiatif memulai manajemen konsumsi”.
Uji kelayakan tidak selamanya berjalan lancar. Ada beberapa kerumitan pada paket SISIBULAT antara lain: bahasa petunjuk penggunaan terlalu akademik (asing) bagi para peserta dan anak-anak; instruksi lebih banyak dalam bentuk teks dari pada citra visual. Intinya alat memerlukan penyederhanaan bahasa dan tampilan penyajian agar lebih ramah bagi pengguna (user friendly) terutama bagi anak-anak yang merupakan masa depan Sumba. Begitu juga untuk kaum perempuan yang merupakan tumpuan kedaulatan pangan Sumba masa depan.
Setelah melalui uji kelayakan itu, prototipe SISIBULAT direvisi, diproduksi, diperbanyak, dan dilengkapi video membuka paket (unboxing) dalam tiga bahasa (Indonesia, Kodi, dan Wewewa). Materi paket SISIBULAT dapat diakses pada www.terawangindonesia.com.
KESIMPULAN
Kedaulatan pangan di Sumba Barat Daya akan terjamin apabila seluruh lapisan masyarakat secara partisipatoris dapat menghindari koinsidensi negatif antar berbagai peristiwa siklikal. Artinya, secara bersama-sama warga dan pemerintah membuat kontrak sosial baru sebagai agenda aksi untuk membuat hubungan harmonis antara hakikat alam, usaha tani, peternakan dengan rangkaian kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya. Paket SISIBULAT yang diproduksi Terawang Indonesia ditawarkan sebagai media memudahkan dialog antara pihak yang terlibat di dalam membangun komunitas mitigasi ancaman kelaparan dengan menyelaraskan peristiwa- peristiwa siklikal secara berdaulat dan berkelanjutan.
PILIHAN KEBIJAKAN
- Mitigasi kelaparan menggunakan SISIBULAT bagaimana pun termasuk upaya pemajuan kebudayaan sesuai UU Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017.
- Peraturan daerah dari tingkat I maupun tingkat II dan peraturan yang setingkat perlu dikembangkan agar warga bersama perangkat adat dapat terus meningkatkan pengetahuan tradisionalnya untuk memitigasi ancaman kelaparan secara holistik.
- Dukungan perencanaan oleh Pemerintah Daerah diperlukan untuk mempromosikan dan mengembangkan alat-alat pendidikan dan kebudayaan untuk upaya mitigasi ancaman kelaparan.
- Kerjasama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan (lembaga swadaya masyarakat, lembaga keagamaan, atau organisasi non-pemerintah) untuk mitigasi ancaman kelaparan perlu difasilitasi.
