Menyapa Indonesia, Merengkuh Tepi Bangsa
Bangsa Indonesia terbentuk karena kemampuan para pendiri bangsa merengkuh anak bangsa yang berasal dari ribuan pulau, berbeda bahasa, suku bangsa dan adat istiadat. Keberadaaannya bergantung pada upaya anak bangsa untuk terus menerus menyambut dan merayakannya. Mari merayakan Indonesia.
Produk program kami Simposium dan Festival “Menyapa Indonesia, Merengkuh Tepi Bangsa” ini adalah sebagai rute perjalanan pemikiran kritis dan ekspresi pemajuan budaya yang merengkuh kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) Indonesia, dimana ini dirayakan dengan mengundang keterlibatan konkret dan secara berkelanjutan dari pemikiran multidisipliner dan kebijaksanaan multipihak.
Sebagai suatu rute perjalanan yang melintasi tepi-tepi bangsa, berangkat ke arah timur bagian bawah, menyambung menyusuri naik ke utara, dilanjutkan berbelok ke arah barat bagian atas, kemudian berbelok turun ke selatan, selanjutnya berbelok mengarah ke timur kembali dan bertemu pada titik awal, untuk berjumpa pada KONFERENSI INDONESIA 2033 nanti.
Cita-cita perjalanan ini adalah menjadi jembatan yang mempertemukan lintasan keragaman gagasan pemikiran, gagasan praktik tindakan dan pengalaman yang dijahit menjadi lembar yang sama, menjadi cara pandang arah perubahan yang berdiri pada pondasi kebudayaan yang berakar pada masa lalu namun bersifat luwes, inklusif dan kompromis terhadap gerak perubahan jaman baru, sehingga jauh dari adu kekuatan saling menaklukkan dan menyingkirkan sistem tata kelola kehidupan yang berlangsung.
Rute perjalanan yang berlawanan arah jarum jam dan mengarahkan pandang pada “ketimuran” ini sekaligus sebagai representasi pendekatan terhadap pembangunan kawasan terluar Indonesia, dalam menghadapi tantangan jaman baru dengan harapan yang lebih besar menuju pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan dan menyejarah.
Kami ingin menciptakan keterhubungan antara multidisiplin dan multipihak (pemerintahan pemangku kebijakan, swasta, akademisi, praktisi non pemerintah dan media massa) dalam kerja-kerja kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan di sepanjang kawasan tepi Indonesia. Kami ingin memupuk jaringan ini untuk cita-cita besar kami, yaitu KONFERENSI INDONESIA 2033 tersebut.
Besar harapan kami bisa melibatkan Saudara sekalian sampai kesana. Kami sangat yakin dan percaya dengan apa yang kami lakukan.
Beri Daku Sumba
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
(Taufik Ismail, 1970)
Humba
Kupacu kuda dan bernyanyi
Menyusuri sabana leluhur... O.. leluhur...
Nostalgia kehidupan Umbu Rambu Ina Ama leluhur.. O.. leluhur...
Satukan kain sarung Mamuli ucapan cinta pada leluhur.. O.. leluhur...
Sirih pinang kehidupan hangatkan jiwa tanah leluhur... O leluhur..
**
Kunyanyikan pakalak pada bahagiaku...
Untuk cinta kuteriakan payawau...
Cintaku bahagia di Humba...
Gemulai indah tarianmu
belaian hangat tangan Marapu.. o Marapu...
Pesona alam ringkik Pasola
Berayun mesra di rumah Marapu.. o Marapu...
**
(Rolis Rohi @ Humbacustik, 2018)
Lagu Humba ini ditulis pada tahun 2015 dan awalnya hanya sebatas tulisan biasa. Tahun 2016, mulai ditata kembali untuk menjadi sebuah bentuk lagu. Hingga akhirnya masuk ke studio rekaman pada bulan November 2017. Beberapa kritik menyatakan bahwa lagu ini dirasa mampu menyampaikan suatu pesan cerita Sumba yang menyeluruh. Sehingga, pada paruh bulan Juni - Juli 2018, perubahan kembali dilakukan untuk memperkuat komposisi lagu.




















































